Tuesday, December 1, 2009

MASIH ADAKAH RASA PERCAYA PADA PENEGAK HUKUM

Ketika ditanya tentang konsistensi aparat penegak hukum, jujur saya ragu. Di satu pihak, saya merasa ada sebagian yang masih bisa dibilang jujur, tapi itu kisaran kecil. Karena di sisi lain, terbukti dengan jelas mereka bisa menjual hukum dengan mudah, tapi tentu saja dengan harga yang tidak murah.

Terdengar tragis ketika seorang remaja terpaksa mendekam di penjara berbulan-bulan hanya karena mencopet dompet ibu-ibu di sebuah bis. Ketika diinterogasi, uang itu ingin dipakai untuk makan keluarganya, tidak lebih. Berbeda lagi ketika ada sebuah kasus dimana buruh kakao menjadi tahanan rumah saat menemukan tiga buah kakao tapi dituduh mencuri, bahkan di dalam surat tertulis dia telah mencuri 5 kg kakao. Ini menunjukkan mudahnya terjalin kerja sama antara pencuri sesungguhnya dengan aparat dan mereka menggunakan kambing hitam seorang buruh yang dituduh mencuri.

Berbeda lagi cerita tentang koruptor. Ck,ck,ck.... Sungguh hebat...hanya sedikit yang tertangkap. Yang lainnya bebas dengan banyak alasan, ada yang karena tersangka telah kabur ke luar negeri, terdakwa sakit parah, kurang sukup bukti lah, dll. Kalau pun berhasil diamankan, hukuman yang dijatuhkan tak lebih dari bui selama beberapa bulan.

Remaja yang mencuri uang Rp 100.000,00 mendapat hukuman penjara dengan jumlah yang sama dengan pengusaha yang mencuri uang rakyat sebesar Rp 1.000.000.000,00. Sangat ironis. Itu semua merupakan cuplikan kecil dimana pengadilan berkuasa membuat sebuah sandiwara yang bisa berakhir bahagia atau malah sebaliknya. Kami heran, sebenarnya buku macam apa yang dijadikan patokan dalam mengambil sebuah vonis peradilan. Apa benar UUD(Ujung-Ujungnya Duit)?

Komisi Pemberantasan Korupsi pun turun tangan untuk membantu kinerja Polri. Sayangnya, itu justru menjadi boomerang bagi pihak penegak hukum karena nyatanya dalang di balik kasus KKN ada campur tangan polisi. Tak ingin ambil risiko, kini KPK-lah yang menjadi sasaran empuk aparat, bukan lagi tikus-tikus kepala hitam berperut buncit. Para pengayom masyarakat disibukkan mencari maling sandal jepit dan masalah KPK, ketimbang mengejar koruptor. Wajar sih, karena kalau KPK dibiarkan, citra Polri akan semakin buruk karena terbukti membantu mengeruk uang rakyat.

Saat mereka dengan bangga berkoar telah berhasil menangkap maling, sebenarnya apa yang mereka dapatkan?? Sebuah kebohongan umum yang tak pantas dipublikasikan. Sungguh memalukan. Aku memang tak mengerti isi buku perundang-undangan, masyarakat pun awam akan peraturan peradilan. Tapi satu hal yang kami tahu dan seharusnya mereka juga tahu adalah kebenaran dan keadilan tidak akan pernah bisa ditukar dengan harta. Sampai mati, pasti akan diminta pertanggungjawabannya. Bila tidak terkuak di dunia, di akhirat pun nantinya akan digelar persidangan yang akan membuka kedok seluruh pelaku utama penyelewengan dana rakyat.

Selain itu, yang tidak habis pikir adalah orang-orang yang duduk di atas pastinya sebagian besar diisi oleh kaum-kaum intelektual. Kemana ilmu-ilmu kejujuran yang mereka peroleh sejak TK hingga perguruan tinggi? Apakah musnah begitu saja. Ketika ada pihak yang berusaha menyadarkan dan membangun sebuah kejujuran, justru malah berusaha dilenyapkan. Susah memang jadi orang baik di negeri para bedebah. Jelas saja banyak orang berbondong-bondong jadi orang jahat. Jika dibiarkan, mau jadi apa negara ini? Benar-benar kiamat!!

Apakah idealisme yang mereka anut ketika muda telah hilang terkikis oleh uang? Tidak ada yang tahu alasannya ketika mereka yang dulu berseru HIDUP MASYARAKAT, kenyataannya malah menyengsarakan rakyat di kemudian hari. Aku hanya bisa berharap calon-calon generasi penerus tidak mudah terjerumus ke lubang yang sama seperti pendahulu mereka karena hukum itu untuk ditegakkan, bukan untuk diperjualbelikan. Aku juga sebagai iron stock berusaha sekuat mungkin berkata benar jika itu memang benar, tidak ada kepalsuan yang disembunyikan. Ingat salah satu bunyi Sumpah Mahasiswa: Kami, mahasiswa Indonesia berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan. Itu lah yang harus dijunjung seumur hidup karena kejujuran ada di dalam hati, bukan dalam kantong yang bisa keluar-masuk seenaknya sendiri. Itulah kejujuran, rasa yang hanya dimiliki seseorang yang akan mencapai kemenangan yang hakiki.



Dyah Anggraeni

Sidoarjo

22.30 WIB


No comments:

Post a Comment