Sebenarnya, aku mulai memakai jilbab saat sudah masuk kuliah, tepatnya bulan Agustus 2009. Di bulan Ramadhan itu, aku merasa mendapat keyakinan bahwa keputusan untuk memakai jilbab sudah tepat dan bulat. Dimulai dari acara bebas di jurusan aku mulai memakainya. Hingga akhirnya setelah Idul Fitri saat itu aku tetapkan untuk berkomitmen memakai jilbab terus. Aku tahu tanggung jawab ku selama berjilbab ini jelas jauh lebih berat karena benar-benar aku harus menjaga kehormatan dan tidak bisa memakai baju sebebas dulu. Tapi aku pikir-pikir penegasan seperti itu memang aku butuhkan untuk kebaikanku sendiri. Toh, jilbab adalah salah satu jati diriku. Jati diri yang akan terus melekat tidak hanya untuk menutupi kepala dan rambut, tapi juga untuk menutupi hati dari hal-hal buruk.
Agamaku memang masih sangat rendah. Aku masih mengenal Islam mungkin hanya sebatas kulitnya saja. Tapi aku berusaha dari usaha ini juga. Aku belajar dari ini semua. Bukankah dalam Islam mewajibkan para muslimah memakai jilbab untuk menutupi aurat-auratnya. Jadi aku awalnya juga sebatas memenuhi perintah dan memenuhi nadzarku. Ya, aku dulu bernadzar jika berkuliah di universitas ternama, salah satunya aku akan memakai jilbab seperti yang dilakukan teman lamaku. Begitulah awal mula ini semua. Namun seiring berjalannya waktu, aku terus menuai pengalaman-pengalaman yang belum tentu aku dapatkan jika aku masih memperlihatkan rambutku ini. Salah satu pelajaran pertama adalah konsisten. Karena banyak juga wanita yang memakai jilbab hanya saat kuliah, sedangkan kehidupan luarnya benar-benar bebas dan sering menunjukkan keindahan tubuhnya. Atau ada juga yang rela menanggalkan jilbabnya untuk sesuatu hal yang mungkin menurutku kurang masuk akal dan sebenarnya masih banyak solusinya.
Ibuku awalnya memang tidak berjilbab juga, mungkin hanya saat-saat tertentu saja beliau memakainya seperti saat mengambil rapot atau acara keluarga. Tapi ketika aku bilang ke beliau tentang keputusan baruku ini, beliau terlihat senang dan mulai lebih sering lagi memakai jilbab seperti saat senam, atau sebatas acara di luar rumah. Aku bahagia sekali karena sekarang beliau juga mencoba konsisten sepertiku. Dan sebenarnya ini sempat memotivasi adikku untuk mengikuti jejakku juga, tapi kurang berhasil. Semoga saja secepatnya ia menyusulnya.
Ketika aku memakai jilbab, tentu saja aku harus memakai baju berlengan panjang dan bawahan hingga menutupi mata kaki. Inilah. Inilah yang ‘memaksaku’ untuk tidak memperlihatkan bagian tubuhku ini pada sembarang orang. Aku ‘dituntut’ untuk menjaga setiap hal yang hanya boleh diperlihatkan pada muhrim dan suami. Aku juga lebih jarang tersentuh lelaki karena mereka lebih sungkan pada wanita yang menutup auratnya. Bukankah terkadang lelaki itu lebih menghargai wanita yang bisa menghargai dirinya sendiri, karena ketika seseorang bisa menjaga kehormatannya, maka insya Allah dia juga bisa menjaga kehormatan orang lain.
Ketika aku berjilbab, serasa ada sesuatu yang ‘mengekang’ku akan kelakuanku. Lebih berusaha lagi meminimalisir ucapan kasar dan memperbanyak asma-asma Allah. Meski invisible, ada semacam kekuatan yang mengendalikan ahlakku. Bagaimana tidak?! Masak seorang muslimah kebanyakan tingkah?! Apa kata dunia?! JIlbab ini juga menjagaku dari godaan para kaum adam yang biasanya suka usil nggodain. Kalau dulu mesti nggodainnya: hi,,cewek.. sekarang paling cuma ucapin salam gitu. Ya lumayan lah didoakan orang, itulah possitive thinking ku. Ibadahku juga meningkat. Shalat tidak cuma berusaha tidak bolong, tapi juga mencoba untuk tepat waktu. Jilbab juga menyuarakan: Hai, aku adalah muslimah. Jadi, tolong perlakukan aku sebagaimana Anda memperlakukan muslimah yang baik.
Berjilbab juga membuatku merasa lebih cantik. Ya, meski dasar mukanya juga begini begini saja, tapi aku merasa berbeda saja dengan aku yang dulu. Aku merasa lebih aman karena merasa terjaga baik raga maupun jiwanya. Dan juga, aku punya prinsip mengenai jodoh itu, wanita yang baik akan mendapat lelaki yang baik pula. Aku ingin tubuhku terjaga hanya untuk suamiku kelak. Aku ingin mendapat pasangan yang baik di mata Allah. Para ikhwan calon kafilah yang baik tentu akan lebih memilih sesuatu yang masih terbungkus rapi, bukan sesuatu yang terbuka dan telah dijamah banyak orang kan?!
Jilbab itu mendinginkan kepala. Jika jilbab itu dipakai dengan benar, maka insya Allah cara berpikir kita akan lancar dan selalu terbuka akan segala hal. Aku ingin terus memakai jilbab, hingga Allah memisahkan raga dengan jiwaku kelak. Aku merasa sudah pas dan sesuai dengan apa yang ada dalam anjuran Al Qur’an. Aku hanya ingin menjadi lebih baik lagi dalam menemukan jati diri hakiki. Semoga kelak aku bisa tidak hanya memahami masalah berjilbab, tapi juga masalah-masalah yang telah diturunkan-Nya untuk memajukan manusia kelak. Amin. Barokallah..
No comments:
Post a Comment