Suatu organisasi tak akan berhasil tanpa adanya kerja sama antar anggotanya. Tapi yang utama, suatu organisasi akan hancur jika terjadi krisis kepercayaan di dalamnya. Unsur intriks ini lah yang menentukan sebuah kelompok bisa maju, diam di tempat, atau malah mundur teratur. Oleh sebab itu, dalam organisasi yang ‘elit’, dibutuhkan tim-tim yang solid dan menjunjung tinggi nilai kejujuran. Untuk mendapatkan individu seperti itu jelas tidak mudah bagi sebuah himpunan. Namun, ini bukanlah masalah sebenarnya karena pribadi seperti yang telah disebutkan tadi dapat dibentuk oleh sebuah hal, yaitu pengalaman. Experience gives us more valuable thing. Itu lah sebabnya orang yang selalu mengambil pelajaran dalam setiap peristiwa yang telah dialaminya akan mendorongnya untuk menjadi lebih baik.
Himatika, Himpunan Mahasiswa Matematika, merupakan sebuah wadah yang dapat mencetak kader-kader penerus bangsa. Karena itu, organisasi ini harus dipenuhi intelektual-intelektual muda yang berkualitas bagus. Mereka yang ingin bergabung harus tahu bahwa mereka harus menyerahkan waktu, harta, tenaga, dan pikiran mereka tanpa meminta ganti rugi atas kerja keras mereka, karena suatu organisasi tidak akan memberikan imbalan pada mereka. Bukankah dalam hidup didoktrin sebuah teorema: Jangan tanya seberapa banyak apa yang kita terima, tapi pikirkan lah seberapa banyak apa yang bisa kita berikan. Itu lah yang disebut totalitas dan loyalitas yang sangat dituntut demi tercapainya tujuan himpunan tersebut.
Suatu grup bisa dikatakan solid ketika kita benar-benar tahu arti penting teman, sehingga kita dapat berjuang bersama dan saling menutupi kekurangan kawan. Kesolidan ini dapat tercapai jika setiap bagian dalam tim itu memahami visi bersama yang ingin direalisasikan. Memahami visi bersama di dalamnya terkandung makna sebuah upaya terus menerus untuk memperjuangkan sesuatu yang ingin diraih, mulai dari upaya menyamakan persepsi, tentang pemikiran, perasaan dan aturan yang mengikat kita, sehingga terbentuk lah upaya untuk menjalankan misi-misi yang telah ditetapkan. Oleh karenanya, untuk membentuk tim yang solid, diperlukan adanya budaya kontrol satu sama lain dengan landasan berpikir benar, yakni dengan membiasakan diri saling mengingatkan, saling terbuka, dan tahan kritik. Hal tersebut dilakukan semata dalam rangka memvalidasi setiap hal atau persoalan yang dihadapi oleh tim tersebut, sehingga dapat tercapai kesepahaman. Seringkali penyakit terbesar yang melanda sebuah organisasi hingga akhirnya menjadikan tim di dalamnya tidak solid adalah karena berkembangnya prasangka atau persepsi antar orang, hingga akhirnya berdampak pada lemahnya kepercayaan satu sama lain. Hal ini lah yang sebenarnya menjadi salah satu sebab terjadinya miss communication atau saling menggantungkan tanggung jawab dan amanah antar anggota tim dalam sebuah organisasi. Oleh karenanya, menjadi kebutuhan yang mendasar bagi sebuah organisasi untuk menerapkan dan membudayakan kebiasaan berpikir secara benar.
Dengan dua hal tersebut, kesolidan dan keloyalan, antar anggota tim akan saling membantu untuk mempertahankan suatu organisasi agar tak tergerus oleh globalisasi. Dalam mewujudkan hal tersebut, diperlukan sosok-sosok yang kreatif, solutif, bertanggung jawab, dan mampu memanajemen setiap kegiatan.
Tanpa adanya kekreatifan, kita ini seperti katak dalam tempurung, tidak tahu info-info up to date yang menurut kita itu penting. Himatika tak hanya butuh knowledge, tapi juga butuh keterampilan yang harus bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Dalam masa depan, kata kunci yang harus dicapai adalah inovasi. Generasi muda harus sudah bisa berpikir tentang inovasi untuk masa depan. Kita dididik menjadi leader dengan berbekal science, yaitu ilmu dan aplikasi yang selalu siap berkarya untuk menghasilkan sesuatu-sesuatu yang ‘new’. Dalam menempuh pendidikan, baik akademik maupun non-akademik, mahasiswa harus dilatih untuk selalu membuka diri dan tidak boleh merasa dibatasi. Karena kalau sudah merasa hal seperti itu, kesuksesan itu bisa tertunda. Adanya pengkaderan sebagai tiket masuk ke suatu himpunan mahasiswa jurusan bukan lah omong kosong karena kita tidak dilatih untuk menjadi mahasiswa biasa-biasa saja yang hanya ‘kupu-kupu’(kuliah pulang-kuliah pulang). Minimal, kita harus memberikan kontribusi sekecil apa pun kepada kepentingan umum, dari pada tidak sama sekali.
Jika mahasiswa tidak solutif, masalah-masalah di kampus, Negara, dan bumi akan menjadi lebih kompleks lagi. Sebuah himpunan tidak butuh mahasiswa yang pintar saja, tapi tak bisa diajak kompromi dalam memecahkan masalah. Lets do something different! Dengan adanya organisasi, kita berusaha lebih atraktif dalam memanajemen waktu karena tanpa adanya hal itu, semua aktivitas kita bisa kacau balau. Bukankah seseorang yang berani bertindak harus berani pula bertanggung jawab. Dari situ, dapat diambil kesimpulan bahwa hidup bersosial juga dapat memberi banyak pelajaran hidup bagi kita. Oleh sebab itu, tak ada salahnya jika kita mengikuti pengkaderan tanpa batas waktu dan dalam bentuk apa pun, karena sebuah pembelajaran akan berwujud dalam segala bentuk dan bisa datang kapan saja mengikuti waktu yang terus bergulir. Intinya, banyak hal yang bisa membentuk mahasiswa matematika menjadi tim yang solid dan loyal sebagai kader Himatika yang kreatif, solutif, dan bertanggung jawab, serta mampu memanajemen kegiatan.
-essay ni didedikasikan untuk Himatika dn ditulis untuk mngikuti LKMM TD bln Oktober 2010-
No comments:
Post a Comment